Selasa, 15 November 2016

Jadikan Pekerjaan Adalah Ibadah

Mari Kita Jadikan Pekerjaan Dunia Kita Sebagai Ibadah

Perkataan adalah sebuah do'a, maka mari mulai sesuatu dengan berdo'a.
Sesungguhnya kehidupan di dunia ini sudah di peruntukan buat akhirat, hanya orang-orang tertentulah yang menjadikan kehidupan dunia hanya untuk dunia, dengan bekerja terus menerus, menumpuk harta menghabiskan waktu untuk kelanjutan periode berikutnya. Bukan berarti tidak perlu bekerja keras, bekerja keras penting,  mencari nafkah harus, bertanggung jawab dengan keluarga adalah suatu kewajiban, namun bukan mesti meninggalkan akhirat. Kehidupan akhirat itu penting, lebih penting dari kehidupan dunia, kenapa begitu...? Alasan pertama, karena dunia Allah ciptakan untuk manusia, artinya dunia harus menjadi budak manusia, bukan manusia yang di budak dunia, bekerja tanpa batas waktu, tanpa tahu hukumnnya.
Alasan kedua, kehidupan dunia hanya sementara sedangkan kehidupan akhirat adalah kekal dam abadi.

Harus kita jadikan kehidupan di dunia seiring dengan kehidupan akhirat (bukan seimbang), dan kita jadikan dunia untuk menghatarkan kita menuju kebaikan akhirat. Bagaimana menjadikan kehidupan dunia yang penuh dengan nafsu dan ambisi ini mengantarkan kita kedalam kehidupan akhirat yang bahagia, ini caranya.

1. Menentukan suatu pekerjaan yang
     Yang boleh dalam Islam

Ada suatu pekerjaan yang sudah jelas larangannya dari Allah dan Rasulullah maka kita sebagai orang muslim tidak boleh mencari nafkah di situ, sesuatu pekerjaan yang menimbulkan kemudaratan pada orang lain seperti bekerja di tempat penjualan minuman keras (alkohol), atau di tempat pasar riba, maka Allah tidak memberikan kepastian keamanan kita di akhirat dari azabnya, karena Allah telah memberi peringatan melewati Rasulullah.

لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَلَعَنَ شَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ وَآكِلَ ثَمَنِهَا

"Allah telah melaknat khamar dan melaknat peminumnya, orang yang menuangkannya, pemerasnya, yang minta diperaskan, penjualnya, pembelinya, pembawanya, yang dibawakan kepadanya, dan pemakan hasilnya." (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)

Al-Tirmidzi meriwayat dalam Sunannya (1295), dari hadits Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu, beliau berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَمْرِ عَشْرَةً عَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَشَارِبَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةُ إِلَيْهِ وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَآكِلَ ثَمَنِهَا وَالْمُشْتَرِي لَهَا وَالْمُشْتَرَاةُ لَهُ

"Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam melaknat sepuluh orang dalam urusan khamer (minuman memabukkan): orang yang memerasnya, meminta diperaskan, yang meminumnya, yang membawakannya, yang minta dibawakan, yang menuangkannya, penjualnya, pemakan hasilnya, pembelinya, dan yang minta dibelikan."

sabda Rasulullah.

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤَكِّلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah telah melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan (hasil) riba, pencatatnya serta kedua saksinya dan pencatatnya”.(HR.Muslim)

Tapi masalah bank kategorinya para ulama ada beda pendapat (khususnya konvensional).

2.  Apa pun yang kita lakukan di dunia
      jadikanlah itu suatu ibadah.

Memulai sesuatu dengan niat, bahwa kita bekerja hari ini untuk beribadah, mengharapkan rezki dari Allah untuk menafkahi keluarga. Maka Allah pasti akan turunkan rezki kepada kita, tanpa di ketahui dari pintu mana rezki tersebut datang. Bila niat ikhlas tanpa ada campuran dengan keinginan kotor untuk korupsi atau sejenis dosa lainnya maka Allah akan penuhi setiap keringat yang menetes adalah pahala, setiap kesulitan dalam pekerjaan adalah pahala, setiap hasil yang di hasilkan adalah keberkahan. Dengan niat karena Allah untuk beribadah dengan cara bekerja memenuhi nafkah buat keluarga maka kita akan mendapatka 2 keutungan, keuntungan beribadah yang sudah jelas upah nya Allah yang langsung kasih, dan keutungan materi dari hasil kerja kita akan mendapatkan upah.

3. Ingatlah sesibuk apapun luangkan waktu     shalat

Jangan pekerjaan yang menjadikan kita lalai, sehingga menunda waktu untuk shalat, ketika azan berkumandang di masjid, tinggalkanlan semua aktifitas, minta izinlah sama atasan atau menutup sebentar tokonya. Sesungguhnya shalat bersama dengan imam di rumah Allah itu lebih besar manfaatnya.
Al-qura'an.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. [Al Munafiqun:9].

4. Menjaga seluruh anggota
     Tubuh dari hal-hal merusak  Niat.

Menjaga pandangan dari segala yang merusak niat ibadah, menjaga tangan dari mengambil, memegang, menyentuh yang bukan hak dan ketentuan miliknya. Jika kita dapat menjaga seluruh organ tubuh dari hal yang bisa merusak niat ibadah dalam lingkungan kerja maka seluruh keberkahan akan Allah curahkan.


Ini poin-poin utama dalam menjadikan pekerjaan bernilai suatu ibadah, dimanapun sektor pekerjaan kita, bila kita sudah menjadikannya suatu ibadah maka sangat besar keuntungan yang Allah berikan, Allah akan menjaga keluarga kita dari keburukan, karena keluarga kita menerima nafkah dari rezeki yang berkah, tidak ada anak yang melawan sama orang tua, tidak ada suatu musibah yang datang kecuali itu adalah ujian dari Allah, selama pekerjaan itu adalah halal dalam padangan Allah dan Rasul-Nya.

Semoga bermanfaat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar